1. Bilang "belakang bang" Pas turun, bilang "yang bayar belakang bang", artinya ongkosnya sudah pasti tentunya ditanggung sama orang yang ada di dalam angkot. Sebelum melakukan ini, pastiin kamu bukan penumpang terakhir yang turun.
2. Siapin uang pecahan besar. Keluarin uang 100ribuan, terus jangan berhenti di tempat yang memungkinkan untuk nukerin uang, berhenti di kebon kosong misalnya.
3. Berhenti tepat di gang yang jalannya berliku Pas turun langsung kabur ke gang atau lompat dari kendaraan hitung-hitung olah raga, pastiin sopirnya gak bisa ngejar. Kalau perlu, ngumpet di rumah orang hati-hati nanti dikira maling.
4. Ajak ngobrol sama supir atau keneknya jadi lebih akbrab, bilang saja numpang hahaha
5. Nyanyi-nyanyi sendiri atau ngbrol sendiri biar di kira gila wkwkwk ...hahaha segitu banget mau naik angkutan gratisan . bilang saja numpang depan lai..
*)hahaha humor belaka
edwanov
... Einstein pernah berkata tentang Kreatif. Kreatif adalah meniru tapi mampu menyembunyikan sumbernya, hmm kreatif adalah Berpikirlah bahwa semua bisa dilakukan dan semua itu mungkin terjadi (optimis).
Hilangkan cara berpikir konservatif. Pola berpikir konservatif
ditandai dengan kekhawatiran untuk menerima perubahan, meski perubahan
itu menguntungkan. Karena ingin mempertahankan gaya konservatif,
perubahan ditanggapi secara dingin, bahkan dipersepsikan sebagai
ancaman. Karena merasa nyaman atau diuntungkan dengan cara konservatif,
ketika dituntut untuk mengubah pola pikir, kita takut akan mengalami
kerugian. Hendaknya disadari, cara berpikir konservatif memasung
pemikiran kreatif karena pikiran dibekukan oleh sesuatu yang statis.
Padahal dalam berpikir kreatif unsur statis semestinya dihilangkan.
Mulailah berpikir dinamis, dengan terus mengolah pemikiran untuk
menemukan pola pikir efektif.
Tingkatkan kuantitas dan kualitas. Jangan cepat puas anti kemapanan dalam pikiran. Semakin cepat puas berarti menutup diri terhadap
pekerjaan lain yang dapat memperkaya perkembangan pemikiran. Kesanggupan
menerima pekerjaan lain, berarti kita membuka diri pada tantangan baru.
Untuk itu kita dituntut berpikir cerdas dan efektif. Dua hal perlu
dilakukan:
Apakah dalam situasi tertekan, kita masih mampu berpikir? Yang berpikir kreatiflah yang mampu membangkitkan daya pikirnya.
Kedua,
perbaiki kualitas hasil kerja. Ini mengandung makna, sekecil apa pun
pekerjaan, kita tidak boleh mengabaikan kualitas hasilnya. Karena dari
kualitas pekerjaan itu tercermin mutu pemikiran kita. Artinya, kalau
pekerjaan kita berkualitas, itu menunjukkan mutu daya pikir kita.
Semakin berkualitas hasil pekerjaan kita, semakin berkualitas pula pola
berpikir kita.
Perbanyak kebiasaan bertanya/berfikir kritis. Bertanya merupakan indikator
bahwa pikiran kita masih ”jalan” dan selalu dinamis. Dengan bertanya,
berarti mencoba menguji daya kritis. Kebiasaan bertanya jangan dipahami
bahwa kita ”tidak mengerti”. Tetapi harus dipahami sebagai munculnya
dinamika pikiran. Bertanya merupakan sarana melatih pengembaraan daya
kreativitas. Dengan bertanya, pemikiran kita bertemu dengan pemikiran
orang lain yang mengandung hal-hal baru, sehingga cakrawala berpikir
kita semakin luas. Juga membuat kita tidak terpaku pada pemikiran diri
sendiri. Sebaliknya, kita mencoba meyakinkan apakah pemikiran kita
sejalan dengan pemikiran orang lain? Hal ini membuat kita semakin
kreatif karena berusaha terbuka terhadap pemikiran dari luar.
Jadilah pendengar yang baik. Menjadi pendengar yang baik berarti
sanggup mendengarkan setiap informasi dari luar dan jadilah seperti spon. Dengan demikian kita
mempunyai ”kekayaan”, banyak kesempatan untuk berpikir mengenai yang
kita dengar. Apabila ingin menanggapi yang kita dengar, sudah tersedia
banyak konsep pikiran untuk digunakan. Menjadi pendengar yang baik
berarti mengerti betul setiap informasi yang masuk ke alam pemikiran.
Kita dituntut untuk berpikir kreatif, sehingga sanggup merespons sesuai
yang dikehendaki oleh dunia luar.
oktober edwanov
![]() |
| hope_edwanov |
Malam semakin melarutkan lamunan
yang dalam, lesatkan cita-cita setinggi angkasa dan jatuh pada bintang-bintang
yang gemerlap menghias langit malam yang semakin elok di pandang. Nampak
bintang jatuh dilangit malam ini di bulan September yang katanya ceria tapi
suasana yang namapak dalam kegudahan yang nampak berkepanjangan. Terlalu senyap
untuk bulan September yang selalu saja katanya ceria dan cuaca di siang hari
yang terlalu terik membakar kulit, dehidrasi ketika melitasi siang hari,
September ini tak ada rintikan hujan yang memdinginkan bumi. Semakin rindu saja
bau tanah yang basah, jadi teringat saat kecil selalu mandi hujan walau pun ke
esokan harinya badan agak sedikit demam, tapi tidak masalah kata Ibuku “di Indonesiakan
beriklim tropis jadi nikmatilah musim hujan karena tak ada salju akan turun
disini.”
Kepala menengadah ke atas menatap
langit malam dan jempol kaki sedikit dingin karena malam telah begitu meninggi dan
angin malam semakin menusuk masuk ke dalam kaos yang memang terlalu tipis
akhirnya sampai ke tukang dan saatnya untuk kembali pulang. Setelah menikmati
malam yang tak begitu panjang di bangku taman. Lewat begitu saja waria yang
menampakan raut muka penuh dengan kegundahan hidup karena bulan September ini
katanya sebagian orang namanya bulan apit, mungkin bulan yang terapit karena
setelah ramadhan dan Idhul Fitri menuju
Idhul Adha.
Sudahkah aku menulis hari ini di
penghujung September ini, begitu saja terlitas dalam pikiran. Menciptakan
seorang malaikat dengan imajinatif untuk mengatakan ketidak pastian pada esok
hari yang masih misterius menampakan dirinya.”Tiba-tiba smartphone terkoneksi
wifi dan beberapa sosmed memberitahukan sesuatu, ahh sudahlah besok saja
mengeceknya” menuju kamar dan beristirahat untuk berjumpa dengan mentari pagi
dengan khas senyumnya yang menembus celah-celah jendela kamar ini.
Edwanov_Jakarta, 29 september
2014
“Kami berkumpul di Bundaran HI, sabtu 1 september 2014. pada saat itu pas jatuh hari sabtu dan tepatnya jam 19:43 wib dan mulai menggelar zine, yap komazine |you can't dance| edisi ke-11 yang terbit pertengahan Agustus 2012 dan mungkin ini sehabis lebaran bersilahturahmi ketemu di darat dengan kawan-kawan. Kami
didatangi aparat karena dicurigai apa yang kami jajakan, tapi nyatanya
‘kan kami menjajakan buku, bukan benda yang sebenarnya mencurigakan. Pertemuan keempat
baru pindah ke Taman Menteng karena lebih nyaman”.
“Pertimbangan lain, di taman banyak pohon sehingga lebih sehat. Ternyata
lebih asik membaca di taman karena bebas polusi dan tidak berisik”. dan banyak yang nongkrong disana banyak pemandangan yang mengasyikan dan tentunya akan banyak juga cerita hadir.
Di Rumah Kaca rencananya kami akan membuka buku, zine yang masing sangat minim ini di gelar disana. tapi rencana cuman rencana dan rumah kaca di pakai untuk syuting video klip. jadinya kami terpaksa mengurungkan niat kami dan menggelarnya di depan air mancur katanya tapi sebenarnya sich air muncrat karana dari bawah ke atas bukanya dari atas kebawa hheheh, tempatnya di seberang sevel Menteng Jl. HOS Cokroaminoto. Pada saat itu tempat itu belum menjadi tempat parkir resmi kendaraan roda dua tapi lama-lama menjadi tempat parkir motor di taman menteng.
Dan akhirnya tak terasa sudah dua tahun menggelar bacaan, berdiskusi, bernyanyi ketemu teman baru atau kawan lama yang silih berganti hadir mensupport kegiatan baca-baca di taman ini . Dan katanya komunitas ini menjemput bola untuk mengajak membaca itu sesatu hal yang menyenangkan, membawa kabar baik bahwa membudayakan membaca dari depan teras rumah kaca yang selalu saja tertutup pada hal itu kan milik publik dan menjadi ikon sebuah taman menteng di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
bawa buku, buka dan baca di taman
MAU PINTAR KENAPA MUSTI BAYAR
edwanov september 2014
Tugas
Liga Pemuda adalah Belajar. tidak ada kata berhenti untuk belajar, di
tangan kanan kita memegang buku, di tangan kiri kita kepalkan tinju,
artinya antara teori dan praktek harus sejalan. Sesi diskusi bersama Edwanov Mikel Pegiat Komunitas Baca Baca di Taman, Siang ini di Jalan Sawo Kecil.
Langganan:
Postingan (Atom)













Follow Us